Jumat, 08 Februari 2013

Negeri Tadah Hujan

Cerpen: Mhd. Zaki
Udara di luar begitu lembab. Jendela di pojok rumah sengaja aku biarkan sedikit terbuka dengan harapan, agar udara segar tidak merasa sungkan untuk bisa masuk menggantikan udara pengap bercampur asap rokok yang memenuhi hampir di semua ruang rumah. Namun sial! Itu semua sepertinya percuma. Tidak ada tanda-tanda gerakan angin yang menyelip masuk. Mungkin ia kelelahan karena tadi siang sudah menumbangkan puluhan pohon yang telah menyumbangkan oksigen bagi warga kampung kami. Termasuk pohon tua kesayangan Pak Amin tetangga sebelah rumahku yang ukurannya melebihi tiga badan orang dewasa. Sementara suara jengkrik masih saja terdengar seperti merintih gerah kehausan. Namun ia seakan setia ingin tetap menemani kami menghabiskan malam.
“Aku akan bertayamum menunggu subuh.”
“Ada apa denganmu! Kenapa harus bertayamum?”
“Karena tidak ada pilihan lain.”
“Sekering itukah kampungmu?”
“Menurutku sekarang bukan hanya sekadar kering, tapi hampir saja terbakar.”
“Lihatlah pundakku penuh dengan daki yang menguap menebarkan bau tak sedap yang semakin hari semakin menyengat.”
Pikiranku begitu bersemangat menghujaniku dengan pertanyaan-pertanyaan yang kadang menyudutkanku. Tapi untunglah pada posisi ini aku diberikan kesempatan untuk bisa jujur dalam menjawab semua pertanyaan itu. Karena dalam percakapan ini tidak ada sedikit pun unsur tekanan, seperti introgasi penyidik dalam sebuah kasus pidana yang melibatkan banyak pejabat di negeri ini. Karena seperti diberita-berita banyak sekali mantan pejabat yang harus menghabiskan masa tuanya di balik jeruji besi yang dingin dan sempit karena persoalan hukum. Aku tak dibentak. Semua mengalir begitu saja. Sungguh dialog yang menyenangkan.  

“Oh…! kampung halamanmu yang malang.”
“Sudahlah, jangan kau sok perhatian dengan kampungku.” Lanjutku lagi.
Malam semakin larut. Udara juga sudah semakin lembab. Namun kami masih saja tetap bersemangat untuk terus berdialog menghabiskan malam. 

Sudah belasan tahun air tidak mengaliri pipa-pipa di kampung kami. Pipa yang mereka pasang puluhan tahun yang lalu oleh perusahaan air minum daerah. Padahal warga telah menaruh harapan besar pada perusahaan air minum daerah tersebut. Tidak ada setetespun air. Apa lagi untuk mengairi sawah warga kampung kami. Semua sawah di kampung kering. Tanah-tanah mulai mengeras dan kelihatan mulai retak. Dibelahan retakan itu seperti mengeluarkan uap panas yang siap membakar apa saja yang ada di dekatnya. Sungguh mengerikan. Dua hari yang lalu bahkan dapat kabar dari para tetangga bahwa ada seorang nenek terbakar saat mencoba menyalakan api rokoknya dengan mendekatkan pada belahan tanah yang telah mengeluarkan uap itu. “Apakah ini sebuah kutukan?” Pikiranku mulai ke mana-mana. Cucian warga menjadi menumpuk, piring-piring kotor pun tak terurus, sebagian telah ditumbuhi jamur, dan dikerumuni lalat dan belatung yang menjijikkan. 

“Oh….! kampungku!” Ucapku lirih.
Begitu juga dengan warga kampung sebelah, mereka juga mengalami hal yang sama. Bahkan mereka malah jauh lebih parah lagi. Berpuluh-puluh tahun lamanya mereka tidak dapati air dari kran ledeng yang mereka pasang dari PDAM. Padahal sumber air berada tak jauh dari kampung halaman mereka. Sungguh memprihatinkan sekali. 

“Kau benar-benar menginginkan air!”
“Untuk apa kau tanyakan itu. Kau tentu sudah tau jawabannya.”
Coba lihatlah di luar sana sawah pemberian leluhur yang membentang sepanjang jalan, yang berjejer di kiri dan kanan jalan. Padahal sawah-sawah itu menjadi andalan bagi sumber pendapatan warga kami. Sawah itu pernah menghasilkan puluhan ton gabah kering dengan kualitas tak tanggung-tanggung. Sebagian hasil sawah itu di ekspor ke negara-negara tetangga. Bahkan sampai sekarang  Beras Payo masih dikenal diberbagai negara khususnya negara jiran. Mereka juga masih mengharapkan bisa mendapati beras itu. Dari sawah itu pula yang menghidupi sebagian warga kampung kami. Banyak orang-orang sukses yang lahir dari hasil sawah itu. Sebut saja para sarjana, guru, dosen, guru besar semua lahir dari sana. 

Walaupun jumlah penduduknya tidak banyak, namun keinginan untuk menuntut ilmu sangatlah besar. Padahal dari segi ekonomi tidaklah terlalu menonjol. Namun hampir di tiap rumah memiliki sarjana. Paling kurang satu rumah ada satu orang sarjana. Sungguh sebuah kebanggaan tersendiri bisa menjadi bagian dari mereka. Tapi apa yang terjadi sekarang! Kami semua belum mampu untuk mengairi sawah itu. Sekarang sawah itu dibiarkan tidak terurus.

“Bukan salah kami.”
“Siapa lagi yang patut dipersalahkan kalau bukan kalian.”
“Aku mohon jangan salahkan kami.” 
“Kalian terlalu serakah!”
“Mana mungkin air itu akan sekering ini kalau saja kalian bisa menjaganya.”
“Tapi kalian terlalu egois.”
Hampir disetiap waktu luang kami sering berdialog, bahkan saat malam tiba kami bisa menghabiskan waktu sampai azan subuh berkumandang. Tidak ada sedikit pun rasa bosan dalam dialog ini. Kadang kami tertawa kadang juga dengan kening yang sedikit berkerut. Mungkin sebagian orang disekitar heran melihat kami. Tapi kami tidak peduli itu. Kami terus berdialog.
***
Aku jadi ingat masa kecil dulu, waktu masih duduk di bangku Madrasyah Ibtidaiyah. Sekarang aku tidak tahu apakah sekolah itu masih ada atau tidak. Karena dapat informasi setelah kelulusan kami tidak ada lagi anak-anak yang mau bersekolah di sana. Padahal waktu kami, sekolah itu merupakan sekolah agama terfavorit. Salah satu buktinya adalah banyaknya warga kampung lain yang berbondong-bondong menimba ilmu di sekolah itu. Bahkan mereka sampai menginap di rumah guru. Berbagai ilmu agama sebagai bekal untuk dunia dan akhirat di ajarkan di sana. 

Ah! Sudah lama sekali masa itu. Walaupun waktu itu belum ada air ledeng, tapi kami tidak pernah kekurangan air. Air kami selalu cukup. Bahkan anak-anak seumurku bisa tetap mandi sambil bermain dengan gembira. Bahkan hampir setiap hari sepulang dari sekolah kami selalu menyempatkan diri untuk mandi sambil bermain. Walaupun tidak menggunakan sabun. Karena memang sabun pada waktu itu masih menjadi barang yang mewah. Apa lagi untuk orang seperti kami. Hanya orang-orang tertentu saja yang  menggunakannya. Itu pun didapatkan di pasar rakyat yang ada seminggu sekali yang jauh dari kampung kami. Puluhan kilo meter jarak yang mesti ditempuh untuk bisa mencapai pasar itu dengan jalan yang berlumpur dan penuh dengan kubangan. Kadang saking lamanya mandi mata kami menjadi merah dan  tubuh kami menjadi biru karena kedinginan. Tami kami tetap bahagia. 

Pada waktu itu air mengalir dengan teratur. Masih banyak pohon yang bisa menyimpan cukup air. Sawah-sawah warga menghijau, tanaman di kebun tumbuh subur. Kulit-kulit kami pun bersih. Tapi apa yang terjadi sekarang. Pohon-pohon yang berfungsi menjadi penyangga untuk menyimpan air di tebang sesuka hati mereka. Bukit-bukit menjadi gundul. Hutan dibakar. Sawah-sawah yang dulunya hijau kini tumbuh kerdil dan dapat dipastikan semua akan gagal panen. Padahal hasil sawah merupakan sumber pendapatan sebagian besar penduduk kampung kami untuk bisa terus melanjutkan hidup. 

Apalagi dalam waktu dekat ini di kampung kami akan ada perhelatan adat. Tentu akan dibutuhkan banyak air. Apalagi bagi ibu-ibu yang sibuk mempersiapkan konsumsi pada acara tersebut. Acara ini adalah hajatan besar. Acara yang ditunggu-tunggu oleh warga kampung. Termasuk mereka yang berada di perantauan. Mereka tentu akan berusaha menyempatkan diri untuk bisa pulang. Menghadiri dan menyaksikan acara adat yang dilaksanakan empat tahun sekali. Acara itu kami menamainya dengan Kenduhi Sko. Yaitu upacara menurunkan Sko serta melantik para pemangku adat yang sebagian karena usia mereka sudah tidak sanggup lagi untuk menjalankan tugasnya sebagai pemangku adat. Selain itu juga ada yang pemangku adat yang menikah dengan warga kampung lain, karena meninggalkan kampung maka mereka secara adat juga harus diganti. Biasanya acara ini bersamaan dengan acara Kenduhi Sudieh Tue. Namun karena masyarakat gagal panen akibat kekeringan Kenduhi Sudieh Tue itu terpaksa ditiadakan. Sayang sekali! Padahal aku begitu berharap bisa menyaksikan dua acara yang bersejarah dan bermakna ini. Kerena akan susah sekali untuk bisa menyaksikannya.
***
Di setiap sudut dan tempat seperti, persimpangan yang dipenuhi anak-anak muda, warung yang biasa menjadi tempat bapak-bapak berkumpul menghabiskan malam sekadar untuk main domino, kelompok pengajian ibu-ibu yang sekaligus tempat mereka bergosip dan bergunjing, semua mengeluh. Air itu sekarang benar-benar hilang dari pipa-pipa air warga.

Tidak kelihatan usaha dari pemerintah daerah untuk membantu mencarikan jalan keluar bagi warganya dalam usaha untuk memenuhi kebutuhan terhadap air yang menjadi sumber kehidupan warga. Padahal tugas dari pemerintah sepengetahuanku adalah sebagai pelayan dari masyarakat. 

Karena tidak bisa berharap banyak pada pemerintah, jangankan untuk mengairi sawah, untuk mandi dan cuci muka pun kami terpaksa harus menggunakan air galon yang kami pesan dari negara tetangga. Kadang sempat terbersit dalam hati “apa yang sebenarnya yang dilakukan pemerintah untuk rakyatnya!” Memprihatinkan sekali! Seringkali pertanyaan seperti itu muncul namun menguap begitu saja, karena tidak ada yang mampu untuk menjawabnya.

Sudah tahun kesepuluh, kulit-kulit sudah mulai bersisik, gelap berdebu. Bila digaruk akan meninggalkan goresan putih yang tentu tidak menarik untuk dipandang. Tidak lagi ada air untuk membasahinya biar lembab dan segar. Air ledeng yang tiap bulan warga bayar bertahun-tahun hanya mengeluarkan angin. Kini harapan satu-satunya adalah kemurahan hati Tuhan untuk menurunkan hujan. 

Kini kami tak mampu lagi membeli air, mungkin air hanyalah untuk mereka yang memiliki jabatan dan eselon tertentu yang dibagi menjadi empat pipa, pipa eselon satu, dua, tiga dan mungkin juga eselon empat. Tidak disediakan pipa yang non eselon untuk orang seperti kami. Tidak ada harapan untuk orang seperti kami, dan kini kami mulai membiasakan diri dengan mandi angin. 
Tidak ada lagi musim menuai tuan! Semua telah menguap bersama bau keringat yang menyengat.

(Jambi, Musim Kemarau Pertengahan 2011)
Kuduhi Sko: Prosesi adat masyarakat Kerinci dalam menurunkan pusaka dan pengukuhan gelar adat. 
Kuduhi Suduh Tue: Syukuran masyarakat Kerinci setelah musim panen padi di sawah.
Beras Payo; Beras khas masyarakat Kerinci yang pulen.

Dimuat di Harian Pagi Jambi Ekspres, Minggu, 13 Januari 2013
*Penulis Lepas, Owner Pustaka Ken Dee [dot] Net.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar...