Minggu, 05 Januari 2025

Kejutan Malin

Cerpen: Mhd. Zaki
Sebenarnya ini adalah sebuah tugas yang diberikan oleh Pak Sesban waktu itu. Tepatnya tantangan membuat cerpen dengan tema Rapat Kerja Badan Bahasa. Tapi sudahlah dicoba saja. 

Semua mata tertuju pada Malin. Sumpah serapah Malin yang mengutuk ibunya menjadi batu telah membuat suasana di ruangan pertunjukan menjadi hening. Semua mata saling menatap, terdiam, melotot dengan penuh tanda tanya yang menggantung.

Malam itu, Malin dengan sumpah serapahnya telah membuat kejutan sekaligus meruntuhkan persepsi para penonton selama ini. Sumpah serapah Malin seketika membuat ibunya berubah menjadi batu. Adik dan kerabatnya yang berada di samping ibunya menangis sejadi-jadinya. Suasana haru menjadi semakin kuat dengan diiringi instumen lagu minang yang khas, mendayu-dayu, yang didominasi suara saluang.

Tidak lama berselang, gemuruh tepuk tangan yang panjang sontak memenuhi ruangan. Malin dan tim kemudian membungkuk sambil berpegangan tangan serta mengayunkannya memberi salam sebagai penanda akhir dari pertunjukan mereka. Lalu mereka berbaris rapi berlahan pergi meninggalkan ruang pertunjukan. 

***

Badan Bahasa kini telah menjelma menjadi lembaga yang berbeda. Lembaga yang mulai diperhitungkan dan disegani oleh lembaga selevelnya di kementerian. Berbagai terobosan dilakukan. Sederet perestasi berhasil ditorehkan. Bahkan baru-baru ini usaha diplomasi kebahasaan dalam upaya internasionalisasi Bahasa Indonesia telah berhasil menjadikan Bahasa Indonesia sebagai bahasa resmi di sidang umum UNESCO yang merupakan organisasi internasional yang bergerak dibidang pendidikan, ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Hal ini tentu menjadi sebuah prestasi yang membanggakan sekaligus menjadi sejarah penting bagi bangsa Indonesia. 

Dalam sebuah acara rapat kerja, berbagai capaian gemilang disampaikan. Masing-masing satker diberi penghargaan dengan berbagai kategori sebagai bentuk apresiasi. Mulai dari satker dengan pengelola SPBE terbaik, satker dengan kinerja terbaik, satker dengan NKA terbaik dan lain sebagainya. Penghargaan ini tentu saja penting untuk membangun iklim kompetisi yang baik di satker yang tersebar diseluruh wilayah Indonesia.

Berbeda dari kegiatan sebelumnya, kagiatan kali ini meninggalkan banyak peristiwa yang tentu saja akan dikenang sepanjang masa oleh para peserta. Setiap materi seperti menyemai nilai-nilai berharga. Terutama dalam menguatkan simpul kebersamaan dan arti tangung jawab.

“Badan Bahasa beda ya sekarang?” ujar salah satu peserta dalam pembicaraan ringan di ruang makan sambil meneguk teh panas yang ada di atas meja. 

“Iya, sampai-sampai saya jarang pulang tepat waktu akhir-akhir ini,” jawab peserta yang lain. “Benar, kadang suka dikomplen sama ibu-ibu komplek,” timpal peserta yang lain. 

“Memangnya kenapa sampai dikomplen?”

“Jarang kelihatan soalnya, karena sering pulang malam,” jawabnya sambil tertawa. Suasana semakin cair dan lepas. Tidak ada sekat diantara peserta. Indah sekali.

Ruang makan dengan susunan meja dan kursi, kini semakin dipenuhi oleh para peserta yang sudah kelaparan. Dentingan piring, sendok, dan garpu turut menemani makan malam peserta. Beragam menu makanan disajikan dengan penataan yang menarik. Tidak ketinggalan menu penutup berupa buah segar yang telah dipotong-potong siap untuk disantap.

Suasana makan malam semakin hangat telah berhasil mengalahkan udara dingin di luar sana. Percakapan ringan di setiap meja tidak terasa telah membawa mereka ke mana-mana. Tidak ada yang luput dari pembicaraan, mulai dari hal kecil sampai dengan hal berat. Hal lucu sampai hal yang menegangkan. Semua lepas tanpa beban. 

“Data penataan UPT disana bagaimana mas, apa sudah beres?” tanya salah satu peserta yang kebutulan duduk satu meja sambil memegang gelas kaca yang berisikan teh panas yang menerbangkan uap. “Alhamdulillah semua data sudah dilengkapi dan diperbaiki sesuai dengan catatan hasil verifikasi.” jawab ku sambil memainkan garpu ditangan kiri ku.  “Semoga semua bisa berjalan sesuai harapan ya mas.” balasnya lagi. “Iya semoga apapun hasilnya menjadi yang terbaik buat kita semua ya” jawab ku lagi sambil menyantap buah yang dari tadi sudah ada di meja makan.

Andai saja Malin kembali mengeluarkan sumpah serapahnya dan mengutuk Kantor Bahasa menjadi Balai Bahasa tentu semua mata akan kembali tertuju padanya. Begitu harapan yang ku tangkap dari para peserta sambil semua pergi berlahan meninggalkan ruang makan kembali ke kamar masing-masing karena besok semua peserta sudah harus meningalkan hotel untuk kembali ke daerah untuk melanjutkan perjuangan yang belum selesai.

Catatan: 

Saluang: alat musik tiup tradisional khas Minangkabau


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar...