Selasa, 25 Desember 2012

Anak itu Bernama Alfat


Cerpen: Mhd. Zaki

Siang itu udara terasa kaku berhembus. Daun-daun pun tak begitu sibuk berterbangan. Seperti mengisyaratkan kebosanan sebuah rutinitas. Sementara itu para wanita bercelana jean ketat berseleweran hilir mudik seakan hendak menunjukkan lekuk tubuhnya yang tersembunyi di balik balutan jeannya yang ketat itu. Tapi hal itu tak dipedulikannya. Ia seperti tidak ingin terlibat dalam perdebatan hembusan udara siang itu. Ia sibuk dengan segudang cita-cita yang ada dikepalanya. Cita-cita seorang anak yang baru akan beranjak dewasa.

“Ah, untuk apa aku terlalu menghambakan diri pada dunia.” gumang ia dalam hati. Buktinya semakin dikejar ia akan semakin jauh meninggalkanku. Aku tidak mau ketinggalan jauh hanya karena mengejarnya. Lalu untuk apa aku melakukan hal yang sia-sia. Ah aku tidak mau terjebak dengan tipu daya dunia pana ini.” Dinding-dinding yang bercatkan kuning telur yang sebagian warnanya telah memudar di rumahnya mendengarkan gumang dalam hati anak itu.  

Kesungguhan dan keteguhan hatinya meyakinkan bahwa ia telah menemukan makna sesungguhnya dari kehidupan yang telah dititipkan untuk sementara oleh sang Khalik. Tentu saja hal ini tidak dimiliki oleh semua orang. Karena kebanyakan orang terlalu disibukkan oleh persoalan pana dunia yang tidak ada akhirnya, hingga membuat mereka terlena dengan berbagai suguhan menariknya, mulai dari demonstrasi, ledakan bom, hingga kekerasan yang dialami oleh para TKI kita yang berada di luar sana.

Diusianya yang masih tergolong muda, yang begitu jelas tergambar dari raut wajahnya serta perawakan yang masih dalam masa pertumbuhan. Anak itu sama persis seperti aku masih seumurnya. Ia begitu polos. Ia selalu menolak untuk diantar sampai ke depan pintu gerbang sekolah. Sama ketika aku menolak Bapak untuk mengantarku. Aku selalu meminta Bapak untuk menurunkanku jauh dari pintu gerbang sekolah. Ia juga menolak ketika akan ditambah uang jajan. Mungkin ia beranggapan uang jajan yang ia terima lebih dari biasanya hanya akan membuatnya boros. 

Disetiap kesempatan sehabis shalat magrib dengan bekal semangat serta kesungguhan anak seumurnya, ia dengan tekun belajar memperbaiki bacaan Alqurannya. Walaupun terkadang hanya dengan berpelitakan sebatang lilin, kerena memang listrik didaerah kami dari dulu sering padam. Ia tetap dengan kesungguhan itu. Bacaan yang terdengar terpatah-patah menjadi suguhan yang menarik bagi telinga tetangga di sebelah rumahnya disetiap meyambut malam tiba. Dilanjutkan setelah itu siraman rohani dengan materi-materi seputar ibadah, nilai ketuhanan, serta yang berhubungan dengan amaliah, yang akan menjadi bekal untuk di ukhrawi kelak. Pendidikan agama sangatlah penting untuk bekal mengarungi hidup yang semakin keras ini. Mungkin itulah yang hendak ditanamkan oleh Kakek itu kepada cucunya dengan harapan kelak anak itu bisa menjadi anak yang shaleh, cerdas dan berguna bagi semua orang.

Dimalam berikutnya, sepulang dari shalat magrib berjamaah di masjid, terdengar dengan jelas  suara kakek sekadar mengingatkan. Walaupun sesungguhnya dalam hati kakek sudah tau persis apa yang akan dilakukan cucunya itu sesampainya di rumah. "jangan pernah kau lupa untuk membaca Alquran biar bacaannya makin fasih, dan kau bisa sambil menghafalnya." Suara seorang kakek dari kamar belakang rumahnya. “Iya Kek” jawabnya sambil mengambil kitab suci Alquran yang ia simpan ditempat biasa diatas meja belajarnya sebelah kanan ruang tamu. Begitu dialog kecil antara kakek dengan seorang cucu. Masih tersimpan jelas diingatanku bagaimana kata-kata itu terucap dari bibir yang sudah mulai kelihatan keriput itu. Bibir yang setiap tuturnya selalu mengeluarkan kata-kata bijak, yang bisa menentramkan jiwa saat hati mulai gelisah. 

Perputaran waktu begitu cepat terasa, secepat waktu itu meninggalkan masa-masa berharga itu, saat aku benar-benar menikmati suasana dimana aku bisa mendapatkan ilmu bersama anak itu. Ilmu yang tidak aku dapatkan di kota ini, kota yang telah mengabaikan nilai-nilai etika ketimuran yang terkenal santun itu. Dimana perempuan dan laki-laki telah melupakan tuhan mereka. Ingin sekali aku tetap berada pada masa itu, biar aku makin mantap dengan ilmu agama itu. 

Sebuah kebiasaan di kampungku sebulan menjelang ramadhan, orang lebih ramai melakukan shalat berjamaah di masjid-masjid maupun di rumah-rumah. Apa lagi menjelang sore, para remaja putri dengan berkerudung berbaju kurung menjadi pemandangan yang menyejukkan. Begitu juga dengan para pemuda dengan pakaian rapi dengan peci di kepala. Ruangan masjid penuh, semua syaf tertutup rapi. Berbeda dengan hari-hari lain.  Warga kampungku menamainya Sumiyuh Mpak Puluh Ahai, yang dalam padanan Bahasa Indonesianya mungkin sembahyang empat puluh hari. Aku bahkan belum mendapatkan jawaban sejak kapan tradisi ini mulai dilakukan oleh warga kampungku. Syariat ataukah sekadar ritual menjelang ramadhan saja?

“Tapi bukankah di dalam syariat Islam, shalat berjamaah selalu dianjurkan setiap saat?” Kenapa aku memikirkan itu!” Apakah tradisi ini merupakan sebagai bagian dari usaha latihan untuk membiasakan diri untuk shalat berjamaah, dengan menyesuaikan dengan momen menjelang ramadhan?. Kalaupun ini cuma tradisi, aku memimpikan tradisi ini akan tetap bertahan” Pikirku dalam hati.

Diakhir bulan rajab menjelang ashar, aku buru-buru menyiapkan diri untuk berangkat ke masjid. Sarung dengan motif khas sutera samarinda dengan peci putih pemberian Bapak sengaja aku kenakan dari rumah. Dengan harapan aku bisa mendapati syaf terdepan dalam shalat berjamaah sesampai di masjid nanti. Setelah sampai di masjid dengan nafas yang sedikit terengah-engah aku dapati para jamaah sudah antri untuk bisa berwudhu. Sebagian besar jamaah terpaksa berwudhu di masjid, karena air ledeng di rumah mereka sudah beberapa hari ini mati. Tua, muda, dan anak-anak begitu kelihatan rapi dengan pakaian yang mereka kenakan. Semua begitu pas dengan masing-masing karakter dan usia mereka.  

Entah kenapa diantara antrian panjang itu, pandanganku tertuju pada seorang anak dengan air mata yang berlinang diantara antrian panjang disebuah tempat wudhu. Aku adalah orang yang sentimentil, sifat  yang aku dapati dari Ibu, tidak tahan melihat orang di sekitarku dalam keadaan bersedih, apa lagi anak seumurnya. Pikiranku mulai dihinggapi rasa keingintahuan yang begitu besar, keningku mulai berkerut atas pertanyataan yang masih tersimpan di benakku. Ingin sekali aku menghampirinya untuk sekadar bertanya. Semakin aku berusaha keras untuk mengeluarkan kata-kata itu, semakin ia mengendap diam. Tapi untunglah aku masih bersyukur ternyata pertanyaan itu lebih dulu dilontarkan persis sama oleh pak ustadz yang kebetulan antri tepat dibelakangnya. 

Diantara suara percikan air yang berbenturan dengan telapak tangan, lalu meleleh dengan berlahan disela-sela jejemari tangan dan kaki, hingga membasahi muka para makhluk yang sedang mencari tuhan. Sebuah pertanyaan muncul dengan tiba-tiba dari bibir ustadz, yang membuat semua orang menoleh ke arah sumber suara itu. Kenapa menangis nak? Tanya seorang ustadz, sambil menyentuh lembut bahu anak itu. Sementara jamaah yang lain  sibuk menyelesaikan wudhu mereka. Saya takut ustadz!. Jawab anak itu dengan linangan air mata, yang sebagian telah tumpah membasahi tanah kampungku yang sudah lama tidak diguyur hujan. Takut kenapa? Lanjut ustadz. Apakah ada orang yang ingin mencelakaimu? Tidak Ustadz! Lalu kenapa nak? Engkau harus takut? Balas ustadz dengan penuh pengharapan akan mendapatkan jawaban dengan segera dari anak itu. Dengan suaranya yang sendu, anak itu lalu berkata “Saya tidak ingin mengingkari janji yang telah saya buat ustadz”. Keingintahuan ustadz semakin menjadi-jadi. Kembali ustadz dengan sebuah pertanyaan “Boleh kah ustadz tau janji apa yang telah kamu buat, sehingga membuat  kamu begitu ketakutan?  Saya takut tidak dapat mengikuti shalat berjamaah ustadz. Karena saya sudah berjanji untuk menjalani shalat berjamaah ini selama empat puluh hari dengan tepat waktu ustadz. “Subhanallah, ya Allah ampuni semua dosa-dosa anak ini, tempatkanlah ia di tempat yang paling baik yang pernah Engkau miliki. Jadikanlah ia penghuni syurgaMu. Begitu doa seorang usdadz tulus, dengan mata yang berkaca-caca sambil menundukkan kepala, berusaha menyembunyikan butiran air mata yang mendadak mengalir di sudut pipi yang sudah tidak kencang lagi setelah mendengar jawaban dari anak itu. Engkau pasti akan mendapatkan apa yang mungkin tidak pernah terpikirkan olehmu sebelumnya. Lajut ustadz dalam hati. 

Jantungku berdetak begitu kencang, hingga setiap detaknya terasa keluar mengalahkan suara percikan air di tempat wudhu itu. Aku menyaksikan saja dari jauh peristiwa itu yang menurutku langka, sambil meyakinkan diri bahwa aku sedang tidak bermimpi. 

Selang beberapa saat, shalat berjamaahpun dimulai, harapanku untuk mendapati syaf terdepan kali ini, mesti ku simpan. Karena aku ternyata harus menjadi masbuk setelah satu rakaat tertinggal. Rakaat demi rakaat aku ikuti dengan rasa kagum yang masih mengganjal di setiap sudut hatiku. Kagum terhadap peristiwa lima manit yang lalu. Sehabis shalat, sengaja aku perhatikan anak itu. Ia dengan khusuknya memanjatkan doa, dengan bibir yang kelihatan bergerak-gerak. Pas sama seperti ketika aku meminta uang jajan sama Bapak waktu aku masih kecil dulu. Tapi kenapa ia memejamkan mata?
***
Seperti waktu libur sebelumnya, setiap kali menjelang pulang aku selalu menyempatkan diri untuk mampir di toko buku, sekadar membeli satu atau dua buah judul buku. Entah kenapa dan kapan kebiasaan itu ku mulai. Dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah, dengan hanya memakan waktu lebih kurang sepuluh menit, diboncengi motor besar kesayanganku sampailah aku di sana. Toko buku yang menjadi incaran bagi banyak orang, khususnya bagi mereka yang kutu buku, atau mungkin sekadar dimanfaatkan oleh anak-anak muda untuk janjian bertemu dengan teman yang baru ia kenal lewat facebook atau YM, karena memang di sana di samping menawarkan banyak judul buku menarik, juga suasana sejuk dan nyaman yang menjadi kekhasannya. 
Hari ini toko itu kelihatan ramai dikunjungi. Sekitar lima belas menit di sana berusaha mengotak-atik buku di  atas raknya yang rapi, sambil berdesakan dengan muda-mudi yang sedang berpacaran, aku akhirnya mendapati judul buku yang menurutku menarik untuk dibaca  anak seumur dia. 
***
Sudah lama sekali Aku tidak pulang. Aku rindu sekali dengan kampung halaman. Aku merindukan Ibu, Bapak. Aku merindukan saudara perempuan ku. Aku rindu keponakanku. Aku merindukan anak itu. Anak yang telah membuat ku kagum sampai sekarang. Aku tidak bisa menyembunyikan kerinduan ku pada mereka semua. Tentunya mereka sudah tumbuh besar sekarang. Menjadi anak yang baik, sebaik harapan Ayah Bunda mereka. Setelah kepulanganku terakhir lima tahun yang lalu, aku belum sempat pulang sampai sekarang. Aku telah benar-benar disibukkan dengan pekerjaan yang kadang membuatku tidak sempat memikirkan perempuan. Padahal umurku sudah lebih dari seperempat abad. Aku merasa seperti durhaka pada kampung halamanku.  

“Tapi sudahlah,” kerinduanku yang lama ku pendam dalam, akan segera terobati, karena tiket travel keberangkatanku untuk besok malam sudah aku kantongi. Kini hatiku telah mantap untuk pulang. Sekarang yang terbayang adalah senyum manis dan kebahagiaan mereka meyambut kepulanganku. Kepulangan yang sekian lama aku rencanakan diantara tumpukan kertas bekas sertifikat, yang penuh dengan coretan kode html dan nomor telepon misterius. 

Aku hampir lupa kalau waktu itu aku pernah berjanji pada anak itu. Iya!, aku baru ingat. Anak itu bernama Alfat. Nama lengkapnya Muhammad Alfat Hakim, nama pemberian dari kakek tersayangnya.  Aku akan pulang tepat di hari ulang tahunnya dengan sebuah hadiah istimewa untuknya. Tentu ia akan sangat mengharapkan kedatangku beberapa hari sebelum hari ulang tahunnya. Dia pasti akan sangat kecewa, kalau saja ia tahu hadiah yang telah aku janjikan sebagai hadiah di hari ulang tahunnya tidak bisa aku hadirkan. Sungguh aku merasa sangat berdosa. 

Karena aku sendiri sudah berniat memberikannya sebuah buku, yang mungkin ia belum pernah membacanya. Aku juga tidak tahu apakah ia akan tertarik atau tidak dengan buku yang dipenuhi kode html, bahasa yang digunakan oleh para web master dalam menyelesaikan sebuah website.

Telanaipura 09






Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Silakan tinggalkan komentar...